baby elephant, close up, elephants, family elephants, happy, loving, smiling, brown smile, brown happiness, brown closed, baby elephant, elephants, elephants, elephants, elephants, elephants

Suaka Marga Satwa Pusat Latihan Gajah (PLG) Sebanga: Dari 5.873 ha di tahun 1992, kini hanya tinggal 1 ha saja.

Posisi geografis Indonesia yang strategis menjadikan negara ini memiliki kekayaan biodiversitas yang sangat tinggi, baik di darat, laut, maupun udara. Untuk melindungi kekayaan tersebut, berbagai kawasan konservasi dibentuk, salah satunya ialah Pusat Latihan Gajah (PLG) Sebanga yang terletak di Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau. (lihat: https://tinyurl.com/ejxh2kb3).

Keberadaan PLG Sebanga bermula dari peristiwa meningkatnya konflik antara manusia dan gajah liar yang terjadi sejak awal tahun 1980-an. Pada masa itu, gajah liar sering memasuki lahan pertanian, kawasan transmigrasi, dan perkebunan sehingga menimbulkan kerugian bagi masyarakat serta mengganggu berbagai program pembangunan. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, pemerintah melaksanakan operasi penggiringan gajah secara besar-besaran ke habitat alaminya. Operasi ini dikenal dengan nama Operasi Ganesha (lihat: https://tinyurl.com/47k6jbx8) dan Operasi Tata Liman (lihat: https://tinyurl.com/ms2mt2bc), yang bertujuan mengurangi konflik sekaligus menjaga kelestarian gajah.

Dari upaya penanganan konflik tersebut kemudian muncul gagasan untuk mendirikan PLG Sebanga pada Oktober 1988 di wilayah Duri, Riau. Pendirian pusat latihan ini dimaksudkan sebagai sarana untuk mengubah persepsi masyarakat terhadap gajah, dari yang semula dianggap sebagai satwa perusak menjadi satwa yang memiliki nilai penting bagi pembangunan dan konservasi sebagai gajah tangkap, gajah tunggang, gajah atraksi, serta gajah patroli (lihat: https://tinyurl.com/yhe8mk8c). Keberadaan PLG Sebanga semakin diperkuat ketika kawasan ini ditetapkan sebagai Suaka Margasatwa PLG Sebanga melalui Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Riau Nomor 387/VI/1992 tanggal 29 Juni 1992 dengan luas kawasan mencapai 5.873 hektar. Penetapan tersebut menjadikan PLG Sebanga sebagai salah satu pusat latihan gajah terbaik di Indonesia pada masa itu, dengan fasilitas yang relatif lengkap serta area penggembalaan yang luas secara in-situ.

Namun kondisi tersebut tidak berlangsung lama. Kerusuhan yang terjadi pada tahun 1993, tekanan yang semakin besar akibat perambahan hutan, serta praktik illegal logging yang semakin meningkat menyebabkan sebagian gajah binaan harus dipindahkan ke berbagai lokasi lain di Indonesia, sehingga pengelolaannya beralih dari in situ menjadi ex-situ (salah satunya ditujukan ke Taman Nasional Way Kambas). Aktivitas tersebut mengakibatkan luas kawasan dan ruang penggembalaan gajah di habitat alaminya semakin berkurang menjadi hanya tinggal 1 ha di tahun 2026 dengan enam ekor gajah binaan yang terdiri dari satu gajah jantan (Sarma, 34) yang dilatih oleh Mahout bernama Yusman, serta empat gajah betina yaitu Sella (15) yang dilatih oleh Mahout bernama EdiRosa (23) yang dilatih oleh Mahout bernama IrwansyahPuja (16) yang dilatih oleh Mahout bernama M. Ramli, dan Dora (11) yang dilatih oleh Mahout Tukino (lihat: https://tinyurl.com/55y9jnz7). Salah satu gajah binaan sebelumnya, Laila (1 tahun 6 bulan), dilaporkan mati akibat terinfeksi virus Elephant Endotheliotropic Herpesvirus (EEHV) (lihat: https://tinyurl.com/3ak73hky).

Fenomena ini menggambarkan dinamika panjang pengelolaan konservasi satwa liar di Indonesia. Dari kawasan konservasi seluas ribuan hektar yang pernah menjadi pusat pelatihan gajah terbaik di Indonesia, kini wilayah tersebut hanya menyisakan sebagian kecil dari luas awalnya. Kondisi ini menjadi pengingat pentingnya menjaga kawasan konservasi secara konsisten agar habitat satwa liar tetap terlindungi dan keberlanjutan ekosistem dapat terjaga.

Tumbuh Indonesia (Tumbuh ID) menyadari bahwa menjaga kelestarian gajah merupakan bagian penting dari upaya menjaga keseimbangan lingkungan dan ekosistem. Oleh karena itu, Tumbuh Indonesia mengembangkan produk fermentasi berupa kombucha dengan brand Gajah Nusantara menggunakan kultur SCOBY (Symbiotic Culture of Bacteria and Yeast) yang diberi nama berdasarkan nama-nama gajah Sumatera di Indonesia sebagai bentuk penghormatan sekaligus pengingat akan pentingnya pelestarian satwa tersebut. Melalui pendekatan kewirausahaan sosial, 20% dari keuntungan bersih penjualan produk dialokasikan untuk mendukung kesejahteraan gajah, termasuk untuk pengadaan vitamin, vaksin EEHV, pakan berkualitas, penanganan konflik antara gajah dan manusia, serta kebutuhan lain yang berkaitan dengan perlindungan dan perawatan gajah sesuai dengan kebutuhan di lapangan.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *